Ilmu telah berkembang pesat mengikuti zamannya yang berkembang, para ilmuwan telah mengetahui akan adanya penyalahgunaan ilmu. Ilmu dapat mengubah manusia menjadi makhluk yang sempurna, ilmu juga dapat mengubah manusia menjadi sosok yang menakutkan. Pada dasarnya, memang ilmu sangat bermanfaat bagi manusia, dengan ilmu manusia dapat mengubah dunia. Kalaupun ilmu menjadi sebuah malapetaka, kita tidak bisa menyalahkan ilmunya, karena ilmu itu sendiri memiliki sifat netral.
Ilmu tidak bergantung kepada kebaikan ataupun buruk melainkan bergantung kepada pemilik dalam penggunaannya. Untuk menghindari hal yang demikian, maka ilmu harus disandingkan dengan cabang-cabang ilmu itu sendiri, yaitu etika, logika, dan estetika yang berhubungan dengan filsafat.
BACA JUGA:
- Etika
Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terahadap diri sendiri, masyarakat, alam, maupun terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta.
Ada empat teori etika sebagai sistem filsafat moral, yaitu:
- Hedonisme, adalah suatu pandangan yang menganggap bahwa sesuatu yang baik jika mengandung kenikmatan bagi manusia.
- Eudomonisme, menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan, yang tujuan dari itu sendiri adalah kebahagiaan.
- Utilitarisme, yang berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah Ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati.
- Pragmatisme, adalah suatu pemikiran yang menganggap bahwa sesuatu yang baik adalah suatu pemikiran yang menganggap bahwa sesuatu yang baik adalah yang berguna secara praktis dalam kehidupan.
BACA JUGA:
- Logika
Logika pada dasarnya merupakan suatu teknik atau metode yang diciptakan untuk meneliti ketepatan dalam penalaran. Penalaran akan berkaitan dengan berpikir asas-asas, patokan-patokan, hukum-hukum. Logika akan membantu manusia dalam menempuh jalan yang paling efisien dan menjaga kemampuan yang salah dalam berpikir. Dengan kata lain, orang dapat berpikir secara benar. Dengan memahami logika, setidaknya seseorang tidak akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan, kekeliruan, atau kesalahan.
- Estetika
Estetika dikaitkan dengan seni, karena estetika lahir dari penilaian manusia tentang keindahan. Kattsof sebagaimana yang dikutip Effendi mengatakan bahwa estetika akan menyangkut perasaan, dan perasaan ini adalah perasaan indah. Nilai keindahan tidak semata-mata pada bentuk kualitas atau objeknya, tetapi juga isi atau makna yang dikandungnya. Dengan demikian, sebuah estetika akan ditemukan dalam sisi lahiriahnya maupun batiniahnya, bukan hanya sepihak. Sebagai ilustrasi bahwa wanita cantik belum tentu indah, karena cantik disini belum tentu menimbulkan kesenangan pada perasaan orang orang lain (Suaedi, 2016:109-111).
Daftar Pustaka
Suaedi. 2016. Pengantar Ilmu Filsafat. Bogor: PT. Penerbit IPB Press.
Muhammad Sabiq, Dasar-Dasar Logika, Penerbit Manggu.
Sakaria To Anwar, Dasar-Dasar Logika, Penerbit Manggu.
Tags: Dasar logika, Dasar-Dasar Logika
News
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.