Ketika sejarah Nusantara diperbincangkan, Kerajaan Mataram Kuno menjadi bagian penting dalam peta peradaban kawasan ini. Mengukir jejak dari abad ke-8 hingga ke-11 Masehi, Bhumi Mataram menawarkan kisah yang mempesona tentang kejayaan peradaban dan kerajaan yang terkagum-kagum. Kerajaan Mataram, didirikan oleh Sanjaya, merupakan kerajaan di Jawa Tengah yang berpusat di sektor pertanian padi. Mereka kemudian memperluas ke wilayah Jawa Timur dan memiliki hubungan dagang maritim. Dalam perkembangannya, kerajaan ini mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang, terutama dalam hal seni, arsitektur, dan teknologi. Pada periode dari akhir abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-9, seni dan arsitektur Jawa klasik berkembang pesat dan tercermin dalam pembangunan candi seperti Kalasan, Sewu, Borobudur, dan Prambanan. Mataram diakui sebagai pusat pembangunan candi.
Dinasti yang memerintah Mataram dibedakan berdasarkan agama, yaitu Hindu-Siwa dan Buddha, dan terjadi perselisihan dalam hal penerusan tahta. Konflik ini menyebabkan dinasti Syailendra terbagi menjadi dua, dengan Rakai Pikatan memimpin dinasti Hindu-Siwa di Jawa dan Balaputradewa memimpin dinasti Buddha di Sumatra. Perseteruan ini berlangsung hingga 1016 Masehi. Pada tahun tersebut, pasukan dari Sumatra menyerang Jawa Timur, menyebabkan keruntuhan kerajaan Mataram. Namun, seorang bangsawan dari Mataram yang masih bertahan kemudian merebut kembali Jawa Timur pada 1019 Masehi. Kemudian, Airlangga, putra Udayana raja Bedahulu di Bali, mendirikan kerajaan Kahuripan dan memerintah sebagai raja. Peristiwa ini tercatat dalam Prasasti Pucangan pada 1041 Masehi. Kerajaan Mataram Kuno, yang juga dikenal dengan sebutan Bhumi Mataram, telah meninggalkan bekas-bekas sejarah yang menjadi saksi bisu akan kemegahan dan peradabannya. Prasasti Canggal, salah satu peninggalan sejarah terpenting, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Melalui prasasti ini, kita mengetahui tentang pendirian lingga di Bukit Sthirangga oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 M.
BACA JUGA:
Kerajaan Mataram Kuno mengalami kemunduran pada abad ke-11 M. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain serangan dari Kerajaan Sriwijaya, perang saudara, dan perubahan jalur perdagangan laut. Kerajaan Mataram Kuno akhirnya runtuh pada abad ke-11 M. Namun, pengaruhnya masih dapat dirasakan hingga saat ini, terutama dalam bidang agama, seni, dan budaya. Mataram Kuno berkembang di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Jawa Tengah, Indonesia. Di bawah kepemimpinan kerajaan ini, terjadi kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bidang politik, ekonomi, hingga keagamaan. Mataram Kuno dianggap sebagai pusat penting dalam pengembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara pada masa itu. Di antara bukti-bukti peninggalannya, Prasasti Canggal menonjol sebagai petunjuk awal akan kebesaran dan keberadaan kerajaan ini.
Struktur Pemerintahan dan Kehidupan Sosial
Kerajaan Mataram Kuno memiliki struktur pemerintahan yang kokoh. Di bawah kepemimpinan Raja Sanjaya, kerajaan ini mengalami masa keemasan. Prasasti Canggal menegaskan keberhasilan Raja Sanjaya dalam memperluas wilayah kekuasaannya serta memperkokoh struktur pemerintahan. Kehidupan sosial di kerajaan ini tercermin dari pembangunan struktur sosial yang terorganisir. Selain itu, kerajaan ini mengalami kemajuan dalam bidang seni dan budaya, yang tercermin dari seni arsitektur bangunan candi yang megah dan tulisan-tulisan sastra pada masa itu.
Perkembangan Agama dan Kebudayaan
Mataram Kuno dikenal sebagai pusat keagamaan Hindu-Buddha yang berkembang pesat. Raja Sanjaya diketahui memiliki kontribusi yang signifikan dalam memperkuat agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Perkembangan keagamaan tercermin dari pembangunan kompleks-kompleks kuil yang megah, seperti Candi Kalasan, Candi Sari, dan kompleks Candi Sewu yang memukau. Selain itu, dalam bidang sastra, sastra Sansekerta berkembang pesat pada masa ini. Karya-karya sastra dalam bentuk prasasti, puisi, dan naskah klasik ditemukan dalam peninggalan Mataram Kuno, menunjukkan keberagaman pengetahuan dan kesusastraan pada masa itu.
Penemuan Prasasti Canggal
Prasasti Canggal, ditemukan di Desa Canggal, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, menjadi salah satu peninggalan terpenting yang menjadi bukti sejarah eksistensi Kerajaan Mataram Kuno. Dalam prasasti ini disebutkan tentang pendirian lingga di Bukit Sthirangga, suatu upacara keagamaan yang diinisiasi oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 M. Prasasti ini menjadi salah satu sumber penting bagi para sejarawan dalam memahami perjalanan sejarah kerajaan ini.
BACA JUGA:
Peninggalan Kebesaran Mataram Kuno
Meskipun Kerajaan Mataram Kuno telah berakhir pada abad ke-11, warisan kejayaan dan kebudayaannya masih hidup dalam bentuk-bentuk peninggalan sejarah yang masih dapat kita lihat hingga sekarang. Bangunan-bangunan candi, prasasti, artefak, dan karya seni adalah saksi bisu dari peradaban hebat dan pencapaian luar biasa yang pernah dimiliki oleh kerajaan ini.
- Prasasti Kalasan adalah artefak sejarah dari Wangsa Sanjaya pada tahun 778 Masehi. Prasasti ini ditemukan di desa Kalasan, Yogyakarta, ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta.
- Prasasti Kedu atau Mantyasih, artefak sejarah dari Wangsa Sanjaya pada tahun 907 Masehi, ditemukan di Mantyasih Kedu, Jawa Tengah. Prasasti ini tertulis dalam bahasa Jawa Kuno.
- Prasasti Ratu Boko berisikan cerita tentang kekalahan Balaputeradewa dalam perang saudara dengan Pramodawardhani, yang merupakan saudaranya sendiri.
- Prasasti Canggal ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di Desa Canggal pada tahun 732 Masehi, menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isinya mengisahkan pendirian Lingga (lambang Syiwa) di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya serta suksesi tahta dari Sanna ke Sanjaya.
- Prasasti Kelurak merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, ditemukan di Desa Kelurak, utara Kompleks Percandian Prambanan, Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis dalam huruf Pranagari menggunakan bahasa Sansekerta dan menceritakan pembuatan Acra Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.
- Candi Borobudur, sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, terletak di Magelang, Jawa Tengah. Dibangun pada masa pemerintahan wangsa Syailendra, Candi Borobudur dianggap sebagai candi Buddha terbesar di dunia dengan struktur punden berundak yang mengecil ke atas hingga mencapai stupa utama di puncaknya.
- Candi Mendut terletak di Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, dibangun pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra.
- Candi Pawon, terletak di antara Candi Mendut dan Borobudur, memiliki arti ‘dapur’ dalam Bahasa Jawa.
- Candi Sewu, candi Budha yang terletak di kawasan Candi Prambanan, Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
- Candi Bima terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Balur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, diduga dibangun bersamaan dengan Candi Arjuna pada abad ke-7 atau ke-8.
- Candi Arjuna, salah satu candi di Kompleks Percandian Arjuna di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, menyerupai candi di Kompleks Gedong Sanga dan merupakan peninggalan Kerajaan Hindu.
- Candi Semar terletak berhadapan dengan Candi Arjuna, berbentuk segiempat yang membujur ke arah utara-selatan.
- Candi Puntadewa, artefak sejarah dari Kerajaan Mataram Hindu, terletak di kompleks Candi Arjuna dengan ukuran kecil namun terlihat tinggi.
- Candi Srikandi, yang didirikan di Kompleks Candi Arjuna, berbentuk kubus dengan ketinggian batur candi sekitar 50 meter.Top of Form
Kesimpulan
Kerajaan Mataram Kuno, dengan segala kebesarannya, telah menjadi tonggak sejarah yang tak tergantikan dalam sejarah Indonesia. Warisan sejarahnya yang berharga memberikan cahaya yang menunjukkan kejayaan peradaban Nusantara pada masa lampau. Meskipun telah berakhir, warisan Mataram Kuno tetap hidup dalam bentuk peninggalan sejarah yang menjadi warisan budaya yang patut dijaga. Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia. Kerajaan ini telah memberikan kontribusi yang besar dalam bidang agama, seni, dan budaya di Nusantara. Berikut adalah beberapa informasi tambahan mengenai Kerajaan Mataram Kuno:
- Ibu kota Kerajaan Mataram Kuno pada awalnya terletak di Medang, tetapi kemudian dipindahkan ke Poh Pitu.
- Kerajaan Mataram Kuno memiliki dua wangsa, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya menganut agama Hindu, sedangkan Dinasti Syailendra menganut agama Buddha.
- Kerajaan Mataram Kuno mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Rakai Panangkaran dan Raja Rakai Pikatan.
- Kerajaan Mataram Kuno mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Raja Balitung.
Referensi
Lestari, Widya. 2020. “Kehidupan Social Budaya Kerajaan Mataram Kuno” Kompas. Rubrik Berita. Edisi Senin, 25 Januari. diakses Kamis, 09 November 2023, 08:22.
Lestari, Widya. 2020. “Kerajaan Mataram Kuno: Letak, Masa Kejayaan dan peninggalan.” Kompas. Rubrik Berita. Edisi Senin, 20 Mei. diakses Kamis, 09 November 2023, 08:22.
Tim Redaksi. 2022. “Kerajaan Mataram.” Wikipediaensiklopedia. Rubrik Berita. Edisi Senin, 27 Juni. diakses Kamis, 09 November 2023, 09:34.
Tim Redaksi. 2021. “14 Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, Mulai Prasasti hingga Candi.” cnnindonesia. Rubrik Berita. Edisi Rabu, 05 Juli. diakses Kamis, 09 November 2023, 09:34.
Hera Hastuti, Nusantara Zaman Pengaruh Hindu dan Buddha, Penerbit Manggu.
Zul ‘Asri, Nusantara Zaman Pengaruh Hindu dan Buddha, Penerbit Manggu.
Zafri, Nusantara Zaman Pengaruh Hindu dan Buddha, Penerbit Manggu.
Tags: Jejak Sejarah, Kerajaan Wangsa Mataram, Mataram, nusantara zaman hindu budha
News
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.